28 September 2021

Polemik Pawai Ogoh-Ogoh, MDA: “Ada Kluster Nyepi, Malu Kita”

DENPASAR, badung.info – Tanggapi Polemik Pawai Ogoh-Ogoh Ditiadakan, MDA : “Ada Klaster Nyepi, Malu Kita”

Ditiadakannya pawai ogoh-ogoh sehari sebelum Hari Nyepi yang diputuskan bersama oleh Parisada Hindu Dharma Indoneia (PHDI) Bali dengan Majelis Desa Adat Bali melalui Surat Edaran (SE) tertanggal 19 Januari 2021, justru menjadi polemik bagi masyarakat khususnya di media sosial.

Sehingga Bendesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menanggapi polemik tersebut, yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat luas yang ada di Bali.

“Mestinya di masyarakat tidaklah menjadi polemik lagi. Bahwa kita dalam suasana pandemi, dimana virus covid-19 ini semakin mengganas, semakin mengkawatirkan, rata-rata kasus sudah 300 bahkan pernah sampai 500” Ucap Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet ditemui di Gedung Lila Graha MDA Provinsi Bali, Denpasar, (23/1/2021).

Putra Sukahet menyampaikan protokol kesehatan harus ditaati, karena berakibat pada aspek hukum dan kesehatan.

“Hukum itu bukan hukum di Bali, tapi hukum sudah hukum Nasional, kepolisian bisa bertindak. Ada aspek pidana disamping aspek kesehatan. Mestinya tidak ada polemik itu” Katanya.

Ditegaskan, pawai Ogoh-ogoh bukanlah rangkaian wajib hari raya Nyepi namun sebagai kresasi adat budaya yang bagus.

“Didalam tatwa itu, Ogoh-ogoh itu tidak wajib. Secara tradisi dikaitkan dengan Nyepi, tapi sastranya, itu tidak kewajiban. Oleh karena itu secara agama tidak wajib, yang wajib tawur kesanganya, catur brata penyepian” Jelasnya.

Ia menilai, ditakutkan nantinya adanya klaster Nyepi jika pawai Ogoh-Ogoh dijalankan. “Jangan sampai kita malu secara nasional dan secara dunia juga nanti ada klaster Nyepi, nanti Nyepi kita ternoda. Kan malu kita” Ucapnya.

Putra Sukahet mengingatkan kembali diberlakukannya pandemi pada tahun lalu, pada 10 Maret 2020 dan berdekatan dengan hari Nyepi juga tidak dilaksanakan pawai Ogoh-Ogoh.