1 Desember 2021

Melasti di Badung Diputuskan “NGUBENG” dengan Prokes Ketat

MANGUPURA, badung.info – Pemerintah Kabupaten Badung melalui Kepala Dinas Kebudayaan Gde Eka Sudarwitha mengatakan kebijakan terkait pelaksanaan Melasti, Tawur Kesanga dan Tahun Baru Saka 1943 merujuk pada surat edaran bersama PHDI Badung dan Majelis Desa Adat Badung.

“Kami sepakat melaksanakan pemelastian Nguberng” artinya masyarakat tidak diperkenankan melasti ke segara, beji, maupun campuhan. Melasti sebagaimana tetap dilaksanakan namun terbatas oleh pemangku, prajuru desa dan serati saja. Secara otomatis tidak diperkenankan nedungan tapakan maupun pralingga Ida Bhatara.

Menurutnya, Kelian Pura dan Pemangku Pura Pepeletan dapat nunas Tirta di Kahyangan Pura Desa Setempat. Masyarakat dapat memohon Tirta Amerta Sanjiwani tersebut di Pura Pepeletan, Prasanak, Dadya, Hyang, Ibu, dan Panti masing-masing.

Upakara Melasti di Segara, dilengkapi dengan menghaturkan Banten Guru Piduka, Salaran Ayam dan bebek serta tipat kelanan. Pakelem itik dihaturkan kepada Sang Hyang Baruna.

“Jadi upacara Melasti tidak diperkenankan membawa prelingga dan tapakan Ida Bhatara ke lokasi pemelastian, ini guna untuk meminimalisir kerumunan yang ditimbulkan untuk memutus penyebaran virus COVID-19 ini” ujarnya. Pihaknya juga berharap agar seluruh Bendesa Adat dapat berkoordinasi agar tidak menimbulkan salah kaprah.

Sedangkan untuk pelaksanaan Tawur Kesanga yang di pusatkan di Catus Pata Kerobokan pada hari sabtu, 13 Maret 2021 tepatnya di Jaba Puri Kerobokan akan dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dengan maksimal 50 Orang.

“Bagi Desa Adat yang wilayahnya berada di Ibukota Kecamatan, seperti Desa Adat petang, Desa Adat Blahkiuh, Desa Adat Mengwi, Desa Adat Kuta, Desa Adat Jimbaran, pelaksanaan upacara tawurnya memakai upakara Manca Kelud dilaksanakan pada Catus Pata Kecamatan setempat juga tetap mengacu pada Protokol Kesehatan ketat,” jelasnya sembari mengatakan pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan.

Editor : ARS